Harian Bernas

Bisakah Kekayaan Membeli Kebahagiaan?

12 Juli 2016

Sudut Pandang

Bisakah Kekayaan Membeli Kebahagiaan?

Ilustrasi (Sumber foto: nyomanmedia[dot]com)

HarianBernas.com - Bagi kebanyakan orang, berlimpah harta adalah impian yang selalu didamba. Mereka menyakini bahwa harta yang dimilikinya akan menopangnya meraih kebahagiaan. Benarkan demikian? Lalu bagaimana dengan mereka yang tak bergelimang harta? Apakah mereka tak berhak bahagia?

Dalam The World Happiness Report 2016 Update, sebagaimana diurai oleh Denny JA dalam laman inspirasi.co, terbaca dengan jelas: negara yang paling kaya bukanlah negara yang paling bahagia.

Negara paling kaya berdasarkan GDP per kapita di tahun 2016 adalah Qatar. GDP per kapita Qatar yang diukur dari Purchasing Parity Power (PPP) sudah di atas 146 ribu USD. Namun dalam laporan negara yang penduduknya paling bahagia, Qatar hanya menduduki rangking Ke 36 saja.

Dalam rilis tersebut, Denmark adalah negara yang paling bahagia. Ia menempati posisi rangking 1. Namun dilihat dari penghasilan ekonomi per kapita, Denmark hanya rangking 21, dengan GDP per kapita hanya 45 ribu USD.

Bagaimana dengan negara miskin? Dalam rilis tersebut terungkap pula negara paling miskin sudah pasti bukan paling bahagia. Bahkan, tak ada negara miskin yang masuk dalam top 30 negara yang paling bahagia. Umumnya negara Afrika adalah negara paling miskin dan sekaligus paling tak bahagia pula.

Lantas, bagaimana sebetulnya hubungan antara kekayaan dan kebahagiaan? Apakah mereka yang berkekurangan ekonomi secara otomatis tak membuatnya bahagia? Faktanya pula, mengapa kelimpahan kekayaan tak juga berarti kelimpahan kebahagiaan?.

Hingga  pada level income tertentu, demikian nukil Denny JA, penambahan kekayaan memiliki implikasi sangat signifikan bagi penambahan level kebahagian. Namun setelah level income itu terlampaui, penambahan income tak lagi banyak berimplikasi bagi penambahan level kebahagiaan.

Inilah kesimpulan pertama dari riset hubungan kekayaan dan kebahagiaan. Riset topik ini dilakukan oleh berbagai  pihak dengan kesimpulan kurang lebih sama. Satu diantaranya riset itu dikerjakan oleh Princeton University tahun 2008-2009, yang dipimpin oleh Daniel Kahnam. Ia adalah psikolog pemenang Nobel.  Dalam riset itu ia bekerja sama dengan ekonom Angus Deaton.

Kita dapat mermahami common sense dari kesimpulan itu. Bagaimana mungkin kita bisa bahagia jika secara ekonomi serba kekurangan. Tak ada manusia bisa bahagia jika kebutuhan basic need-nya tak terpenuhi. Untuk mendapatkan basic need itu secara memadai dibutuhkan minimal income.

Namun setelah basic need terpenuhi, penambahan income berikutnya tak lagi banyak berarti bagi penambahan level kebahagiaan. Artinya, penambahan harta kekayaan bagi seseorang tidak secara otomatis menambah tingkat kebahagiaan yang ia rasakan.

Contoh sederhananya begini, mereka yang belum memiliki mobil pribadi, tentu jauh merasa bahagia setelah memiliki mobil tersebut. Namun, ketika ia mampu menambah kepemilikan mobil untuk yang kedua, ketiga, bahkan keempat kalinya, tak lagi banyak menambah efek kebahagiaan yang ia rasakan.

Kepemilikan mobil-mobil tersebut justru menambah beban baginya karena harus menyiapkan garasi yang cukup, membayar pajak, dan kemungkinan besar juga merubah gaya hidup yang tak selamanya dapat memberikan efek kebahagiaan baginya.

Ini artinya, penambahan kekayaan hingga tingkat tertentu tak linier dengan peningkatan rasa kebahagiaan bagi seseorang. Pada batas tertentu penambahan kekayaan tersebut terasa sangat signifikan terhadap peningkatan kebahagiaan. Tapi pada level yang lebih tinggi, penambahan kekayaan tak memiliki banyak arti.

Riset Pricenton University menemukan level itu di Amerika Serikat adalah sebesar 75 ribu USD setahun, yang setara kurang lebih 1 milyar rupiah setahun. Atau rata-rata income 80 juta sebulan.

Mereka yang yang tak memiliki pekerjaan lalu bekerja dan memunyai penghasilan 10 juta sebulan tentu punya efek sangat besar bagi level kebahagiannya. Penghasilan itu menambah kemampuannya memenuhi aneka basic need seperti makanan, pendidikan, kesehatan dan sebagainya.

Penambahan income dari 10 juta sebulan menjadi 20 juta, atau 30 juta, lalu 40 juta dan seterusnya sampai 80 juta sebulan, efek bagi meningkatnya kebahagiaan juga signifikan.

Namun,  menurut riset tersebut, setelah seseorang memiliki income 80 juta sebulan, dan bertambah menjadi 90 juta hingga katakanlah 1 milyar sebulan, tak lagi memiliki efek signifikan bagi naiknya level kebahagiaan. Atrinya, peningkatan kekayaan yang dimiliki tak sebanding dengan peningkatan kebahagiaan yang dirasakannya.

Untuk itu, seperti ditulis Denny, berlaku prinsip uang adalah "necessary but not suficient" untuk mencapai kebahagiaan. Uang memiliki efek untuk mengurangi penderitaan akibat belum cukup terpenuhinya basic need.

Namun uang saja tak cukup untuk membuat kita merengkuh kebahagiaan. Lalu apa lagi yang dapat membuat kita bahagia selain kekayaan? Sila ikuti artikel-artikel saya selanjutnya.

Ahmad Nurcholish, A Personal Development Coach (nurcholish2012@gmail.com).

Penulis : Ahmad Nurcholish

Editor : Thia Destiani

Sudah baca berita ini ?

Berita Terkini

Jangan Salah Pilih, Inilah 5 Kiat untuk Membeli Smartphone Second

52 Menit lalu

HarianBernas.com – Berbagai smartphone menawarkan berbagai spesifikasi dan fitur yang menggiurkan, namun sayangnya tak sedik... Selengkapnya

4 Smartphone Android Indonesia ini Berkualitas Kok Meski Buatan Indonesia

2 Jam lalu

HarianBernas.com – Apakah Anda termasuk orang yang ragu dengan kualitas smartphone Indonesia? Padahal beberapa produsen duni... Selengkapnya

Bali United Resmi Percat Hans Peter Schaller

3 Jam lalu

BALI, HarianBernas.com - Meski baru mengarungi Liga 1 beberapa pertandingan, namun manajemen Bali United sudah membuat keputu... Selengkapnya

Mourinho Unggulkan Man City

3 Jam lalu

INGGRIS, HarianBernas.com - Meski memiliki peluang mengejar peluang, namun manajer Manchester United (MU), Jose Mourinho meng... Selengkapnya

PB PRSI Evaluasi Timnas di Perhelatan Festival Akuatik

4 Jam lalu

PALEMBANG, HarianBernas.com - Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia atau PB PRSI langsung menggelar evaluasi untu... Selengkapnya

Gerindra dan PKS Bakal Kolaborasi dalam Pilkada Jawa Barat

4 Jam lalu

JAKARTA, HarianBernas.com - Politisi Partai Gerindra Sodik Mudjahid mengatakan partainya bersama dengan Partai Keadilan Sejah... Selengkapnya

Keluarga Mulai Melarang Foto Jupe Diposting, Ini Alasannya!

5 Jam lalu

JAKARTA, HarianBernas.com - Julia Perez kerap dilanda isu meninggal dunia meskipun diketahui Jupe memang sempat kritis. Namun... Selengkapnya