Harian Bernas

Melihat Pilgub DKI Jakarta Hadapi Pilpres 2019

21 April 2017

Nasional

Melihat Pilgub DKI Jakarta Hadapi Pilpres 2019

Prabowo-Subianto-dan-Jokowi-Saat-Pilpres-2014-( Sumber Foto : Istimewa)

JAKARTA, HarianBernas.com - Pemilihan presiden atau pilpres 2019 masih dua tahun lagi. Namun, dua tahun bukanlah waktu yang lama guna mempersiapkan kekuatan partai dan suara pemilih, guna memuluskan jagoannya.

Seperti diketahui, pada pilpres 2014, dua petarung yang maju yaitu Joko Widodo atau Jokowi dan Jusuf Kalla atau JK. Mereka diusung PDI Perjuangan, Partai Nasdem, Partai Kebangkitan Bangsa, Hanura dan PPP. 

Partai tersebut jugalah yang telah mengusung paslon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta Ahok-Djarot. Namun hal tersebut ternyata berbanding terbalik. Dimana parpol yang dikomandoi PDI P itu tidak sesukses saat memenangkan Jokowi-JK saat pilpres 2014. Ahok-Djarot keok oleh Gerindra Cs.

Satu petarung pada pilpres 2014 yakni Prabowo Subianto yang didampingi Hatta Radjasa. Dimana 2014 lalu, parpol yang sama saat mengusung Anies-Sandi di pilgub 2017. Tapi, beda ternyata parpol tersebut mampu menenangi Anies-Sandi.

Saat itu, Jokowi-JK mengalahkan Prabowo-Hatta dengan total suara: 
Prabowo-Hatta: 62.576.444 (46,85 persen)
Jokowi-JK: 70.997.851 (53,15 persen)*
Selisih suara: 8.421.389
Total suara sah: 133.574.277

Lalu Apakah Pertarungan Pilpres 2019 juga akan terjadi head to head antara Jokowi dan Prabowo. Tak hanya itu, apakah parpol pengusung juga akan tetap setia atau berbalik?

Pengamat Politik LIPI Siti Zuhro memastikan head to head layaknya 2014 dapat saja tidak terjadi. Melihat pemilihan anggota.legislatif dan pilpres serentak.

"Berbeda dengan sebelumnya karena akan dilakukan secara serentak antara pilpres dan pileg. Sehingga kemungkinanan munculnya calon lain sangat terbuka. Apalagi bila ambang batas Parlemetaru Treshold diturunkan," ujar Siti.

Menurut perempuan yang cukup kritis ini, politik sifatnya sangat cair, dinamis, penuh opsi dan merupakan seni kemungkinan. 

"Maka terlalu cepat menyimpulkan kontestasi hanya akan diikuti oleh Prabowo dan Jokowi," analisanya.

Siti menilai, idealnya sejak tahun 2017 calon presiden dan wakil sudah harus dipersiapkan dari sekarang. Ini penting agar dalam.pemilu nanti tidak.kesulitan mendapatkan calon the best.  Partai perlu mempertimbangkan calon yang akan diusungnya dalam pemiu sehingga kontestasinya oke.

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Airlangga, Surabaya, Airlangga Pribadi, menilai, kekalahan Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok dalam Pilkada DKI putaran kedua, akan memengaruhi Joko Widodo jika maju pada Pemilihan Presiden 2019.

Korelasinya, karena beberapa partai politik yang telah menyatakan akan mengusung Jokowi, merupakan pengusung Ahok-Djarot Saiful Hidayat pada Pilkada DKI.

“Ini kemudian akan menyulitkan Jokowi di 2019,” kata Airlangga.

Meski demikian, menurut dia, harapan bagi Jokowi untuk maju pada Pilpres 2019 tetap terbuka. 

Sosok Jokowi yang tidak memiliki indikasi tersangkut kasus korupsi, menjadi nilai lebih.

“Artinya citra bersih dapat tetap dapat dirawat dan meluas pada pemerintah dan rezimnya,” kata dia.

Untuk menguatkan posisi dan elektabilitas Jokowi pada 2019, menurut Airlangga, mesin politik partai yang ingin mengusungnya harus "bergerilya" dari sekarang.

Selain itu, ia juga menyarankan, agar kekuatan politik dari lembaga berbasis Islam seperti Nahdlatul Ulama, Muhammadiyah, dan para kiai menjadi prioritas untuk didekati.

“Karena persoalan Jakarta ini bisa ditarik ke mana-mana. Ini yang harus diantisipasi,” ujar Airlangga.

PDI Perjuangan menganggap polemik tersebut tidak mau diambil pusing. Ketua DPP PDI Perjuangan Andreas Hugo Pareira mengatakan kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI terpilih tidak serta merta bisa menjadi modal untuk Pilpres 2019.

"Tiap pilkada mempunyai tantangan dan karakter yang berbeda, begitu pun antara Pilkada DKI dan pilpres tentu juga punya karakter baik dari segi luas cakupun, isu maupun tantangannya pasti beda," kata Andreas.

Anggota Komisi I DPR ini mengakui kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat harus menjadi bahan evaluasi.

"Meskipun demikian, tentu setiap kekalahan harus selalu diwaspadai dan dievaluasi untuk perbaikan ke depan," ujarnya.

Politisi PDI P lainnya Eva Sundari mengaku, apabila tidak direapon dan cermat hal tersebut dapat berpengaruh. Namun, di dunia moderen power itu bisa diextend, bukan dibagi habis. 

"Presiden masih punya waktu untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk memperbesar peluangnya menang di luar faktor kekalahan pilkada Jakarta," kata Eva yang juga anggota DPR tersebut.

Menurut Eva, sebagai kepala pemerintahan dan kepala negara, dia memungkinkan untuk itu, terutama dengan faktor pokok yaitu berkinerja dengan baik dan menertibkan penggunaan isu politisasi SARA. 

"Semua harus diingatkan ke konsesnsus bahwa inti demokrasi adalah kesejahteraan bukan ajang pertarungan politik identitas berbasis SARA. Pilkada DKI ini anomali, pelanggaran kasat mata penggunaan masjid untuk kampanye oleh pendukung dan paslon dibiarkan oleh KPUD dan Bawaslu," sesalnya.

Partai Golkar sebagai partai yang sejak awal dukung Jokowi tetap konsisten dukung Jokowi pada pilpres 2019. Partai Golkar menegaskan kekalahan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) - Djarot Syaiful Hidayat tidak mempengaruhi sikap partai mendukung Jokowi dalam Pilpres 2019.

Koordanator Bidang Pembangunan Daerah Partai Golkar Zainudin Amali angkat bicara. Ia menyebut keputusan mendukung Joko Widodo sebagai calon presiden 2019 sudah diputuskan lewat rapat pimpinan nasional (Rapimnas).

"Tetapi menurut saya kekalahan di DKI itu tidak korelasinya tidak signifikan dengan Pilpres Pak Jokowi," kata Amali.

Dikatakannya kekalahan Ahok dalam Pilgub DKI akan berpengaruh terhadap pencalonan Jokowi dalam Pilpres 2019.

"Jadi tidak mesti Pak Ahok kalah Pak Jokowi kalah di 2019, saya kira saya tidak melihatnya seperti itu," katanya.

Amali mengatakan sosok Ahok dan Jokowi merupakan hal berbeda.

Sehingga Golkar tetap konsisten mencalonkan Jokowi di 2019. Selain itu, Amali juga menilai dinamika politik dalam Pilkada DKI Jakarta sudah selesai.
Terlebih, Anies telah datang ke Balai Kota untuk bertemu Ahok.

"Yang sempat tidak bertegur sapa, ada konflik kecil sekarang bersatu kembali, kita tata ke depan dan kita bangun Jakarta untuk bersama-sama," kata Amali.

Hal tersebut diperkuat dengan, Wakil Ketua Fraksi Partai Nasdem DPR Irma Suryani Chaniago. Ia mengatakan kekalahan calon petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat di Pilkada DKI 2017 tidak menggangu Presiden Joko Widodo di 2019.

"tidak identik dengan Pak Jokowi pribadi," jelas Irma.

Anggota Komisi IX DPR ini menjelaskan mungkin efek kepada PDI Perjuangan lebih menonjol kekalahan calon incumbent Ahok-Djarot karena Djarot merupakan perwakilan dari PDI Perjuangan. Sedangkan, Ahok bukan sebagai kader partai.

"Kalau terhadap PDI Perjuangan mungkin, karena disitu ada wakil PDIP Pak Djarot. Kalau Pak ahok sendiri kan bukan Partai Nasdem, partai siapa pun. Jadi Nasdem mendukung seseorang dalam pilkada banyak di seluruh Indonesia toh, bagian yang mendukung," ujarnya.

Menurut dia, meskipun Ahok pernah berpasangan dengan Jokowi pada Pilkada DKI 2012 lalu itu memang tidak bisa dinafikan. Akan tetapi, tentu tidak ada implikasi langsung kekalahan Ahok kemarin dengan Jokowi.

"Kalau saya bilang karena tidak ada kaitan secara langsung antara Pak Ahok dengan Pak Jokowi ya tidak usah diwarning-warning lah. Kita seringkali mengkait-kaitkan satu hal dengan hal lain, menurut saya tidak harus demikian," jelas Amali.

Tak hanya Amali, Ketua Dewan Pakar Partai Golkar, Agung Laksono menyebut, kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur DKI di Pilkada 2017 dapat memberikan dampak kepada Prabowo Subianto pada 2019.

"Mengingat politik Jakarta sebagai ibukota negara, itu tentu akan ada pengaruhnya kepada Pak Prabowo," katanya.

Namun, Agung mengaku belum mengetahui secara pasti apakah Ketua Umum Partai Gerindra itu akan kembali maju atau tidak pada Pemilihan Presiden (Pilpres) tahun 2019 nanti. Menurut dia, memang tidak ada larangan jika Prabowo kembali maju.

"Saya juga tidak tahu apakah dia maju lagi atau tidak, itu saya tidak mencampuri karena hak dia untuk maju. Tapi, Jakarta sebagai ibukota negara dan tempat strategis," ujarnya.

Anies-Sandi Pintu Masuk Prabowo

Kemenangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno di Pilkada DKI Jakarta 2017 akan memperkuat pencapresan Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto pada Pilpres 2019.

Keyakinan itu itu disampaikan Wakil Ketua Umum DPP Partai Gerindra yang juga Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon.

"Ya insyaAllah. Kita harapkan begitulah. Artinya dengan keterbatasan yang ada, dana yang terbatas, paket hemat yah, kemudian media yang tidak terlalu banyak, tapi ini saya kira masyarakat? mengingkan yang rasional (kemenagan Anies-Sandi)," kata Fadli.

Anies-Sandi diusung koalisi Partai Gerinda dan PKS. Di putaran kedua, koalisi ini diperkuan oleh PAN.

Jelas Fadli, dengan terpilihnya Anies-Sandi diharapkannya mampu membuat ibukota lebih baik lagi ke depannya.

Nah, jika Jakarta nanti lebih baik, diharapkannya akan membawa angin segar bagi pencapresan Prabowo. Kemenangan Anies-Sandi diharapkan sebagai pintu masuk bagi kemenangan Prabowo di Pilpres nanti.

Untuk itu, Fadli berdoa agar Prabowo tetap diberi kesehatan dan kekuatan agar bisa kembali maju dalam Pilpres mendatang.

"Karena saya kira kalau Pak Prabowo yang terpilih menjadi pimpinan nasional, ini akan membawa Indonesia menjadi kuat, lebih terhormat, dan bermartabat," pungkasnya.

Wasekjen Partai Gerindra Andre Rosiade menambahkan, peluang Prabowo cukup bagus.  Intinya kemenangan Anies dan Sandi memberikan kepercayaan kepada kami Partai Gerindra dan seluruh Pendukung Prabowo, bahwa Prabowo bisa mengalahkan Jokowi di Pilpres 2019.

"Karena Pilgub kemaren kan yang dihadapi oleh Anies dan Sandi bukan Ahok dan Djarot semata, tapi sudah ahasia umum ahwa rezim Jokowi mendukung Ahok," tegasnya.

Penulis : Firardi Rozy

Editor : Sunti Melati

Sudah baca berita ini ?

Berita Terkini

Jangan Salah Pilih, Inilah 5 Kiat untuk Membeli Smartphone Second

53 Menit lalu

HarianBernas.com – Berbagai smartphone menawarkan berbagai spesifikasi dan fitur yang menggiurkan, namun sayangnya tak sedik... Selengkapnya

4 Smartphone Android Indonesia ini Berkualitas Kok Meski Buatan Indonesia

2 Jam lalu

HarianBernas.com – Apakah Anda termasuk orang yang ragu dengan kualitas smartphone Indonesia? Padahal beberapa produsen duni... Selengkapnya

Bali United Resmi Percat Hans Peter Schaller

3 Jam lalu

BALI, HarianBernas.com - Meski baru mengarungi Liga 1 beberapa pertandingan, namun manajemen Bali United sudah membuat keputu... Selengkapnya

Mourinho Unggulkan Man City

3 Jam lalu

INGGRIS, HarianBernas.com - Meski memiliki peluang mengejar peluang, namun manajer Manchester United (MU), Jose Mourinho meng... Selengkapnya

PB PRSI Evaluasi Timnas di Perhelatan Festival Akuatik

4 Jam lalu

PALEMBANG, HarianBernas.com - Pengurus Besar Persatuan Renang Seluruh Indonesia atau PB PRSI langsung menggelar evaluasi untu... Selengkapnya

Gerindra dan PKS Bakal Kolaborasi dalam Pilkada Jawa Barat

4 Jam lalu

JAKARTA, HarianBernas.com - Politisi Partai Gerindra Sodik Mudjahid mengatakan partainya bersama dengan Partai Keadilan Sejah... Selengkapnya

Keluarga Mulai Melarang Foto Jupe Diposting, Ini Alasannya!

5 Jam lalu

JAKARTA, HarianBernas.com - Julia Perez kerap dilanda isu meninggal dunia meskipun diketahui Jupe memang sempat kritis. Namun... Selengkapnya