Harian Bernas

Membangun Kepercayaan Demi Mewujudkan Impian

06 Mei 2017

Tokoh

Membangun Kepercayaan Demi Mewujudkan Impian

Jemi Kanas (sumber foto : istimewa)

HarianBernas.com - Jemi Kanas atau akrab di sapa Pak Jemi, seorang yang sejak kecil nyaris tak punya impian. Hidup yang dijalaninya serba terbatas secara ekonomi. Bahkan, untuk memiliki keinginan apapun, jarang sekali hal itu akan terwujud atau terbeli. Pendidikan yang ia tempuh pun hanya sampai lulus di bangku sekolah dasar.

Jemi kecil pernah memiliki angan-angan dan terobsesi menjadi seorang pendekar. Karena ia terinspirasi dari cerita radio yang sering ia dengarkan. Saat itu, memang hanya radio sebagai media hiburan satu-satunya. Selain itu, juga karena ia sering nonton layar tancep. Setamat dari SD, ia hijrah ke Bandung. Jemi memang terbiasa hidup mandiri karena ia merasa kecewa dengan masa kecilnya yang cukup miskin sampai ia putus sekolah di SMP.

Saat berproses menjadi dewasa, Jemi pun juga pernah bergelut dengan berbagai profesi yang pernah di jalani. Ia sempat berganti-ganti profesi untuk bertahan hidup. Mulai dari menjadi buruh pabrik, buka kantin, rancang bangun, mebel sampai akhirnya pilihan terakhir saat ini yaitu kuliner Warung Ereng Ereng.

Namun, dari setiap pilihan yang ia putuskan selalu saja mendapatkan dukungan dari orang-orang tercinta disekitarnya. Salah satunya, yaitu istrinya Koesmiyati yang ia nikahi pada tahun 2008 di Surocolo maka sejak 2010, Jemi resmi domisili di Surocolo, Bantul. Di samping itu dukungan dari keluarga, dan yang tak kalah penting, yaitu sentuhan seorang “malaikat” ketika ia bertemu seorang guru sekaligus mentor yang selama ini membimbing dan mengarahkan usaha kulinernya, yaitu Pak Irsyam Sigit Wibowo.

“Saya banyak belajar dari Pak Irsyam. Dan pembelajaran yang lain ketika saya juga belajar dari masyarakat luas ketika semua membantu mempublikasikan Warung Ereng Ereng miliknya dari mulut ke mulut sampai melalui media sosial juga,” katanya. Awal pertemuan dengan mentornya memang seperti hal yang tak terduga. Ketika ia ditanya oleh mentornya sepert ini “Allah pertemukan kamu dengan saya pasti karena di suatu hari yang silam kamu pernah berbuat baik kepada orang lain. Apakah kamu ingat?” Jemi pun lupa kapan hal itu ia lakukan. Ia berusaha mengingat-ingat, tetapi tidak bisa. Jemi menganggap bahwa hidup yang ia jalani saat itu biasa saja dan tidak ada hal yang luar biasa yang ia berikan pada orang lain. Lalu ia hanya menjawab kepada mentornya apa yang dia ingat saja. Namun, dalam hati Jemi terbesit “Kalau ini pasti rencana Allah”.

Awal mula Jemi merintis Warung Ereng-Ereng saat itu sering dipandang sebelah mata oleh orang lain, bahkan keluarganya sendiri. Ia memang merasa betapa sulitnya mencari dukungan. Pertemuannya dengan Pak Irsyam saat itu hanya ingin bahwa beliau bisa menjembatani usahanya dengan masyarakat agar bisa dibina untuk maju karena Desa Surocolo juga memiliki obyek wisata, yaitu Gua Jepang dan Situs Sendang Surocolo yang lokasinya cukup dekat rumah Jemi.

Namun, pendekatan masyarakat saat itu tetap tidak mulus karena respon masyarakat begitu kurang. Akhirnya, Pak Irsyam lebih fokus menjadi mentor usaha kulinernya Jemi saja. Tujuh bulan awal memang masa tersulit untuk mencari dukungan finansial dan ini tantangan terberat untuk mewujudkan Warung Ereng Ereng. “Bahkan untuk kebutuhan sehari-hari pun kami pun kerepotan. Dan saya menjual  apa yang saya punya demi Warung Ereng Ereng. Tetapi, alhamdulillah ada satu sahabat yang membantu,” imbuhnya. Sebelum merintis kuliner, ia pun sebelumnya ingin merintis usaha galeri kerajinan, tetapi setelah pertemuan dengan mentornya konsep itu berubah menjadi kuliner.

Saat proses membangun Warung Ereng Ereng, ia hanya mengandalkan rejeki di sekitar rumahnya. Ketika banyak pohon kelapa dan bambu yang ditebangi tetangga dan bebatuan yang berserakan di sekitar, Jemi memanfaatkan itu untuk membangun fisik warungnya. “Jadi kira-kira pendirian Warung Ereng Ereng itu ia capai dengan 75 % kerja keras dan finansial 25 %,” terangnya. Tantangan lainnya memang datang dari orang lain ketika mimpi usaha kuliner tersebut sering diremehkan, tetapi ia menganggap bahwa itulah warna kehidupan. Intinya, ia tetap ingin maju dan tidak merugikan siapapun atau melanggar hukum.

Kesuksesan bagi Jemi, tidak dijamin karena berpendidikan tinggi atau finansial yang menunjang. Bahkan, Jemi beranggapan “Saya masih jauh dari kata sukses kalau kemudian ukurannya adalah finansial. Tetapi, untuk sebuah pencapaiannya yang penuh kerja keras, ia sudah sukses,” jelasnya optimis. Jemi makin mantap dan yakin bahwa pilihannya selama ini tidak luput, mimpi dan kerja keras adalah jawabannya. Bahkan sebagai orang Jawa, ia pun tegas mempertahankan jati dirinya. Meskipun Jawa, ia tetap tidak mau ketinggalan jaman, tetapi tidak juga terbawa jaman.

Dari usaha serta kerja keras yang sudah diwujudkan Jemi, saat ini ia bisa menuai hasil dari apa yang selama ini orang-orang remehkan. Hal yang lain juga Jemi rasakan ketika mendapat tekanan dari orang-orang sekitarnya. Ia sempat dianggap orang yang jarang bersosialiasi dengan warga dan sebagainya. Namun, usahanya untuk tetap meyakinkan orang-orang di sekitarnya terus ia jalani.

Lingkungan yang selama ini kurang memberi dukungan akhirnya lambat laun menunjukkan keramahan. Misalnya saja, ada tetangga yang tembok rumahnya rela dipotong demi kendaraan agar bisa lewat menuju Warung Ereng Ereng bahkan di ijinkan parkir sekalian. Bahkan, masih banyak lagi dukungan yang sepele, tapi bagi Jemi itu tidak bisa dianggap kecil demi usaha warungnya.

Bagi Jemi, ketika orang lain bisa mengapresiasi apa yang sudah ia kerjakan, itu sudah cukup. Ia tidak pernah berorientasi pada penghargaan, kedudukan, atau popularitas sekalipun. Ia hanya ingin berkarya saja. Untuk membangun apa saja, tidak perlu atribut apapun dalam diri kita. Tetaplah saja menjadi diri sendiri. Kesuksesan dan impian yang terus ia perjuangkan sampai detik ini, yaitu ketika pilihan memang butuh perjuangan, pengorbanan, ketekunan dan doa. “Saya sudah berulang kali gagal membangun kehidupan yang lebih baik dengan merintis usaha. Tetapi, saya selalu mempelajari setiap proses-prosesnya,” pungkasnya.

Penulis : Elyandra Widharta

Editor : Paulus Yesaya Jati

Sudah baca berita ini ?

Berita Terkini

Prof Nasarudin: Semakin Paham Agama, Bangsa Indonesia Makin Toleran

13 Menit lalu

JAKARTA, HarianBernas.com - Terusiknya kehidupan kebangsaan yang dipicu kasus penistaan agama dalam Pilkada DKI Jakarta membuat se... Selengkapnya

Inilah 4 Hal yang Menandakan Anda Jatuh Cinta Padanya

28 Menit lalu

HarianBernas.com - Setiap orang pasti ingin merasakan indahnya jatuh cinta. Rasanya, hidup Anda tidaklah lengkap apabila belum per... Selengkapnya

Jantung Pisang dengan Sejuta Manfaat

43 Menit lalu

HarianBernas.com – Jika dilihat sepintas, memang jantung pisang tidak terlihat istimewa. Bahkan sering dianggap sebagai bagi... Selengkapnya

Manfaat Kulit Tomat yang Harus Anda Tahu

58 Menit lalu

HarianBernas.com – Setelah mengupas tomat, jangan langsung membuang kulit tomat ke tempat sampah. Karena dibalik kulit tomat... Selengkapnya

Cara Pembuatan dan Pengolahan Kolang Kaling

1 Jam lalu

HarianBernas.com – Kolang-kaling tidak mengenal musim dan mudah ditemukan di pasaran sehingga kapanpun Anda ingin mengolahny... Selengkapnya

Bagi Pengantin Baru, 4 Tip Ini Akan Membuat Keuangan Rumah Tangga Menjadi Sehat

1 Jam lalu

HarianBernas.com - Apakah Anda merupakan pasangan pengantin baru? Anda pasti sudah mulai merencanakan keuangan rumah tangga Anda, ... Selengkapnya

Masih Awam, 4 Cara Ini Mampu Menjaga Keamanan Kartu Kredit saat Belanja

2 Jam lalu

HarianBernas.com - Anda pasti pernah atau sering berbelanja dengan menggunakan kartu kredit. Namun, apakah sudah menjaga keam... Selengkapnya